Oleh: Pdt. Ayub Abner | November 30, 2007

Diubah untuk Melayani (3)

Yohanes 4:1-42

Dalam Tulisan terduhulu dalam topik yang sama, telah dijelaskan bahwa Tuhan Yesus telah mengubah perempuan Samaria dalam teks ini, dalam dua hal yaitu dalam Kebencian masa lalu yang merupakan akar kepahitan yang telah ada sejak nenek moyangnya dan perubahan dalam kehidupan moralnya. Selanjutnya dalam Dialognya dengan Tuhan Yesus dalam ayat. 20-23, ada satu pokok penting yang perlu diubah oleh Tuhan Yesus dalam konsep berpikir perempuan ini, berkaitan dengan topik ibadah atau penyembahan. Konsep ibadah yang benar menurut prempuan ini adalah ibadah yang dipusatkan di gunung gerizim (ayat. 20). Namun Orang Yahudi pusat penyembahan berada di Yerusalem. Namun Tuhan Yesus memberikan suatu pusat ibadah atau penyembahan yang tidak berpusat pada kedua tempat itu (ay. 21) , namun pusat penyembahan atau ibadah yang benar harus dalam roh dan Kebenaran (ay. 23). Alasan penyembahan/ibadah harus didalam roh dan kebenaran sebab dalam ay. 24. dijelaskan bahwa Allah itu Roh maka penyembahan kepada-Nya harus dalam roh dan kebenaran

Dengan Penjelasan ini, maka Tuhan Yesus ingin merubah sebuah paradigma ibadah/penyembahan yang hanya dibatasi oleh ruang dan waktu dari perempuan ini dan membawanya untuk memiliki cakupan ibadah yang luas dan yang dikehendaki oleh Allah yaitu harus didalam roh dan kebenaran. Maksud daripada roh dan kebenaran adalah ibadah harus lahir dari hubungan batin kita dengan Allah, dimana kita harus mengalami kelahiran baru sehingga roh kita di kuasai oleh Roh kudus dengan demikian dalam beribadah sungguh-sungguh Roh Kudus yang memimpin kita untuk beribadah kepada Allah. Kebenaran perlu menjadi landasan ibadah sebab  ‘menyembah dalam roh’/ibadah hanya benar secara batin (yaitu ada kasih, kesungguhan dsb) belumlah cukup. Harus juga ada kebenaran, seperti pengertian yang benar, kepercayaan yang benar, cara ibadah yang benar dsb.  Ini menekankan perlunya belajar Firman Tuhan! serta tujuan ibadah bukan tempat tertentu atau manusia tetapi tujuan ibadah adalah Kristus yang adalah sumber kebenaran (Yohanes 14:6).

Dari bagian ini dapatlah kita pelajari beberapa hal:

1. Ibadah yang benar tidak dibatasi oleh ruang dan waktu tertentu (tidak hanya dibatasi dalam tempat-tempat kegiatan kerohanian), namun ketika kita sudah lahir baru maka dimanapun kita berada, tetap dalam sikap beribadah. karena inti ibadah adalah memuliakan nama Tuhan (Roma 12:1).

2. Ibadah harus dilandasi dengan kesungguhan hati (pimpinan Roh kudus) dan penyembah yang benar harus  memiliki pemahaman ibadah yang benar berdasarkan Firman Tuhan serta tujuan ibadah adalah Tuhan Yesus Kristus. Sehingga tujuan utama ibadah bukan saya diberkati, atau apa yang Tuhan berikan untuk saya ataukah adanya perasaan “hari ini saya tidak menikmati ibadah” namun sebaliknya evaluasi yang benar dalam ibadah adalah apa yang hari ini telah saya berikan pada Tuhan dalam ibadah saya, apakah itu semua menyenangkan hati Allah atau tidak. Introspeksi ini harus ada sehingga tidak membuat kita mencuri kemuliaan Allah dan tidak mendukakan  hati Allah dalam hidup kita.

3. Apabila konsep ibadah ini dipahami maka dimanapun setiap orang Kristen berada seharusnya ia menjadi berkat, sebab seharusnya dalam kondisi apapun ia tetap memuliakan Allah sebab ia tetap dalam sikap beribadah kepada Allah ( Roma 12:1).

Tuhan Memberkati.

Ayub Mbuilima


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: