Oleh: Pdt. Ayub Abner | Oktober 27, 2007

Iman yang Besar

(Matius 15:21-28)

Hal yang paling menyakitkan dalam hidup ini, bukan masalah kemiskinan, bukan masalah sakit penyakit, namun masalah yang paling menyakitkan dalam hidup ini adalah ketika kita ditolak. Mengapa demikian sebab ketika kita ditolak, maka penolakan tersebut memberikan indikasi kita tidak diterima, kita tidak dihargai bahkan adanya kehilangan pengharapan sebab apa yang kita harapkan tidak tercapai oleh karena penolakan tersebut. Penolakan tersebut berakibat pada kemarahan, kebencian, dendam bahkan sampai kepada tindakan pembunuhan dll.

Penjelasan di atas tidaklah jauh dari lingkungan dimana kita berada, bahkan mungkin kita sendiri sebagai pembaca saat ini telah dan sedang mengalami penolakan sehingga saat ini kita sedang berada dalam kondisi akibat penolakan tersebut. Namun Apabila kita melihat dan meneliti teks diatas maka memberikan sebuah contoh yang sangat-sangat luar biasa dari iman seorang perempuan Kanaan.

Dimana alur ceritanya mengkisahkan tentang anaknya dari perempuan ini yang kerasukan setan dan menderita ( ayat 21), akibat dari penderitaan anaknya ia datang kepada Tuhan Yesus dan meminta pertolongan (belas kasihan) (ayat 22).  Mungkin bagi kita sebagai gembala, majelis maupun sebagai jemaat Tuhan yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan , kita merasa senang sekali apabila orang yang tidak percaya datang kepada Tuhan, maka kita akan sambut dengan sukacita, namun kondisi ini sangat berbeda dengan kondisi sambutan dari Tuhan Yesus dan Murid-murid terhadap kehadiran ibu ini. Ketika perempuan ini berseru meminta belas kasihan dari Tuhan Yesus, maka Tuhan Yesus dan murid-murid menunjukkan sikap:

ayat 23 ; Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya…Ini menujukkan bahwa Yesus tidak menunjukkan respon  apa-apa terhadap seruan perempuan ini pada hal perempuan ini sangat membutuhkan pertolongan Tuhan.

ayat 23, bagaimana sikap murid-murid terhadap perempuan ini; …Lalu murid-muridnya datang dan meminta kepada-Nya (Tuhan Yesus) untuk menyuruh perempuan ini pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak… Jadi tidak hanya perempuan ini tidak diresponi oleh Tuhan Yesus, bahkan murid-murid Tuhan Yesus menganggap bahwa kehadiran perempuan ini menggangu sehingga disuruh untuk pergi (diusir).

ayat 24. Jawaban Tuhan Yesus kepada Perempuan ini; Aku diutus  hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Dengan kata lain bahwa Perempuan ini tidak termasuk hitungan untuk mendapatkan pertolongan sebab ia bukan dalam kelompok Israel.

Ayat 26. Tetapi Yesus menjawab “tidak patut mengambil  roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing….indikasinya bahwa Perempuan ini dihadapan Tuhan Yesus disamakan dengan anjing, perempuan ini sangat direndahkan oleh Tuhan Yesus. Namun dalam penolakan yang begitu keras bagaimana sikap perempuan ini:

ayat 25; …tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata Tuhan tolonglah aku. Disini kita dapat pahami bahwa kebutuhan akan Kristus melebihi penolakan serta hinaan yang dia terima, sehingga walaupun ia dihina dan diremehkan serta ditolak ia tetap mendekat  dan menyembah Tuhan Yesus. 

ayat 27; Ketika Tuhan Yesus merendahakan dia sebab menyamakan dia dengan anjing maka perempuan ini menjawab dengan jawaban sangat membuat kita terkagum….Kata perempuan itu; “benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja Tuannya.

Dari sikap dan jawaban perempuan ini baik dalam ayat 25 dan 27, ada beberapa hal yang kita dapai bahwa sikap datang kepada Tuhan yang dimiliki oleh perempuan ini adalah

– satu sikap yang murni dan dilandasi dengan kesungguhan hati dan ketulusan, sehingga tantangan apapun yang dialami tidak mengalahkan kemurnian, ketulusan dan kesungguhan hatinya untuk meminta belas kasih daripada Tuhan.

– Satu kejujuran dimana ketika Tuhan menyamakan dia dengan anjing, ia jujur mengaku akan identitas dirinya sebab ia bukan orang Israel, sehingg ia tidak berhak mendapatkan makanan yang hanya disediakan buat orang-orang Israel.

– Perempuan ini memiliki Iman yang kuat dan Kokoh sehingga tidak goyah dalam menghadapi tantangan untuk datang kepada Tuhan.

– Perempuan ini dikaruniakan hikmat oleh Allah untuk mengharapkan dengan iman “sisa anugerah yang disediakan bagi bangsa Israel”. Ini adalah pengharapan yang sejati.

Pada akhirnya Tuhan Yesus dalam ayat 28; Ia sendiri memuji iman dari ibu ini. Tuhan Yesus mengatakan hai ibu besar imanmu… (Iman yang besar adalah iman yang telah melewati proses Tuhan).

Apa yang dapat kita ambil dan aplikasikan dalm hidup kita berkaitan dengan iman dari perempuan Kanaan ini:

1. Dalam mengikut dan melayani Tuhan pasti kita tidak luput dari tantangan yang mungkin didalamnya ada penolakan. Baik penolakan terhadap pelayanan kita, kehadiran kita bahkan hasil pelayanan yang sudah kita lakukan. Mungkin saja kita telah berkorban dengan bekerja keras memeras keringat untuk memberikan yang terbaik dalam gereja, persekutuan, yayasan, pekerjaan dll, namun kita ditentang dan ditolak akhirnya membuat kita putus asa, lemah dan mungkin saja kita mengambil keputusan untuk mundur atau berhenti dari pelayanan atau pekerjaan tersebut Namun belajarlah dari ibu ini bahwa ia tidak mundur. Bahkan hinaan, tantangan dan penolakan dipergunakan sebagai ujian pemurnian motifasi dan iman untuk semakin mendekati Yesus dan menyembah Tuhan.

2. Belajar dari ibu ini, dimana ia sangat jujur dengan pengakuannya dihadapan Tuhan bahwa ia sama seperti anjing karena ia tidak berhak atas anugerah Allah tersebut. Marilah kita belajar bahwa walaupun kita diselamatkan dan ikut melayani Tuhan sebenarnya kita tidak punya hak untuk diselamatkan dan dipanggil untuk melayani, sebab kita adalah hamba-hamba yang tidak berguna (Lukas 17:10). Sebab masalah diselamatkan dan dipanggil untuk melayani Allah adalah Kedaulatan Allah. Maka bersyukurlah dalam segala hal baik itu ada tantangan maupun tidak ada tantangan, serta belajarlah berkata jujur dalam mengikut Tuhan, karena lewat kejujuran itulah kita semakin diubahkan oleh Tuhan.

– Belajar dari ibu ini, bahwa ia mampu melihat setiap peluang anugerah yang diterima dalam setiap kesempatan, walaupun itu sangat kecil kemungkinan. Namun dihadapan Allah yang kecil ini dapat menghasilkan yang besar. Banyak orang ketika melihat  tantangan ia langsung putus asa, namun ketika ia berdiri tegak dan  menghadapi tantangan tersebut maka ia dapat melihat peluang anugerah Allah didalam tantangan tersebut yang membuat dia semakin maju dalam Tuhan.

Tuhan Memberkati

Ayub Mbuilima


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: