Oleh: Pdt. Ayub Abner | Juli 30, 2007

Ketika Kenyataan Tidak Sesuai dengan Harapan

Sadar atau tidak….banyak orang Kristen katanya menyembah Allah yang benar, melayani Allah yang benar, tetapi ketika disuruh melihat kembali motivasi dan tujuan menyembah dan melayani Allah yang benar belum tentu sesuai dengan sasaran tersebut. Secara formalitas dan rutinitas mereka menyembah dan melayani Allah, namun secara tidak sadar mereka menyembah dan melayani diri dan kebutuhannya sendiri. Kondisi seperti ini, tidak hanya nampak pada zaman sekarang, namun apabila ditelusuri dalam Kitab Mazmur 73:1-28, maka seorang pemimpin besar pada zaman itu telah mengalami hal tersebut. Tokoh tersebut adalah Asaf. Siapa Asaf sebenarnya sehingga ia bisa masuk dalam jebakan Katanya melayani Allah, tapi kenyataannya melayani diri sendiri. 1 Tawarikh 16:4-6 menjelaskan bahwa Asaf adalah:
1. Keturunan Imam karena dari suku Lewi
2. Kepala (pemimpin) puji-pujian di hadapan tabut Tuhan
3. Seorang yang menjaga kekudusan luar (basuh tangan) dan dalam (hati yang bersih). (Mazmur 73:13).
Dengan adanya ketiga bagian tersebut di atas yeng merupakan ciri khas kehidupan Asaf, maka tidak ada yang dapat disangsikan dari kacamata manusia bahwa Asaf adalah seorang yang luar biasa dalam kehidupan dan pelayanannya. Namun setelah Asaf melihat realita kehidupan ia mulai bereaksi, sebab kenyataan hidup tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam batok kepalanya (pemahamannya akan Allah). Sehingga dengan reaksinya terhadap realita maka muncullah misteri kepada siapa Asaf beribadah dan melayani di dalam Bait Allah, kepada Allah atau kepada dirinya sendiri?. Mazmur 73:3 menjelaskan bahwa Asaf cemburu kepada pembual-pembual. Siapa itu pembual-pembual, ayat 6-11 menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang congkak, hidup penuh dengan kekerasan, hati mereka meluap-luap dengan sangkaan, mereka menyindir dan mengatai-ngatai dengan jahat, hidup dalam pemerasan, mereka membuka mulut melawan langit (Allah) dan lidan mereka membual dibumi. Namun bagaimana dengan realita kehidupan mereka yang membuat Asaf cemburu. Ayat 3-5 menjelaskan bahwa mereka mengalami kemujuran, kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka, mereka tidak mengalami kesusahan dan tidak kena tulah. Sedangkan bagaimana realita kondisi Asaf, ayat 14, sepanjang hari Asaf kena tulah dan kena hukum setiap pagi. Bukankah sesuatu yang sangat kontras. Dimana seharusnya dalam pandangan manusia apa yang dialami oleh Asaf seharusnya dialami oleh para pembual, dan kemakmuran dll. Yang dialami oleh pembual-pembual tersebut harus dialami oleh Asaf.  Mengapa Asaf cemburu dan mengatakan sia-sia ia menjaga kekudusan hidup di hadapan Allah (ayat 13) karena dalam pikiran Asaf, kalau ia setia dengan Tuhan maka, harusnya ia diberkati dengan kemakmuran, keberhasilan, kegemukan dll., sebagaimana dialami oleh pembual-pembual tersebut, tetapi mengapa dia mengalami tulah dan hukum, bagi Asaf Allah tidak adil. Secara tidak sadar Asaf jatuh kepada agama timbal balik, dimana kalau dia setia kepada Tuhan, maka Tuhan juga harus setia memberkatinya dengan kemakmuran, keamanan dll. Kalau ia berbuat banyak untuk Tuhan, maka sebaliknya Tuhan pun harus melimpahinya dengan apa yang baik menurut pandangannya (Asaf). Jikalau Asaf setia di dalam Tuhan (menyembah dan melayani Tuhan) maka Tuhan pun harus menjawab apa yang ia minta atau doakan. Kalau tidak maka Allah tidak adil atau benar. Oleh sebab itu Asaf merasa bahwa ia pantas kecewa kepada Tuhan sebab teologia yang ada dalam otaknya tidak sesuai dengan kenyataan hidupnya. Sadar atau tidak banyak orang Kristen menyembah dan beribadah kepada Allah untuk mencapai tujuannya, bukan tujuan Tuhan, dengan demikian maka konsekuensinya Tuhan dijadikan hambanya dan ia adalah Tuan sehingga dalam doanya ia berani menuntut Tuhan untuk menjawab doanya sesuai dengan kemauannya dan apabila Tuhan tidak menjawab sesuai dengan keinginan dan harapannya ia merasa pantas untuk kecewa kepada Tuhan. Selanjutnya dari kekecewaannya kepada Tuhan, ia yang dulunya aktif melayani Tuhan, merasa sia-sia sehingga berhenti dari pelayanan tersebut. Pemahaman seperti di atas perlu dikikis atau dibuang karena telah keluar dari pemahaman yang Alkitabiah, sebab secara tidak sadar orang tersebut bukan menyembah Allah tetapi menyembah kebutuhan dan kepentingan dirinya sendiri. Selain itu Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita dalam doanya di taman Getsemani bahwa janganlah kehendak kita terjadi tetapi biarlah kehendak Allahlah yang terjadi atas kita.

Ayub Abner M. Mbuilima

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: