Oleh: Pdt. Ayub Abner | Juli 30, 2007

KEBAIKAN SEJATI

 

Dalam Lukas 18:18 dikisahkan tentang seorang muda yang kaya berkata kepada Yesus, “Guru yang baik, apakah yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal? Namun dalam ayat 19 Yesus menjawab hanya Allah saja yang baik.

Dengan ungkapan ini Tuhan Yesus mau menekankan kepada kita bahwa standar kebaikan sejati hanya ada di dalam Allah, sehingga manusia tidak berhak dengan sendirinya menentukan bahwa sesuatu itu baik atau tidak. Harus diakui bahwa manusia dalam menentukan sesuatu pasti ada pengaruh ukuran subyektif di dalamnya.

Walaupun demikian sering kali manusia merampas bagian Tuhan di dalam hidupnya untuk menentukan sesuatu itu baik atau tidak. Buktinya sering kali kita katakan si anu itu baik si anu itu jahat, padahal kalau berbicara secara jujur, maka ukuran si anu itu baik dan jahat bukan dilihat dari standar Allah, tetapi sering kali standar atau ukuran kita sendiri. Sehingga apa yang dikatakan dalam 2 Timotius 3:2, bahwa Manusia mulai mencintai diri sendiri merupakan suatu kebenaran yang nyata sampai saat ini.

Jadi standar kebaikan manusia adalah kalau si anu itu menguntungkan saya dan membuat saya menjadi enak, maka ia saya katakan baik. Kalau si anu membuat saya rugi dan menjengkelkan saya maka saya katakan si anu itu jahat. Inilah ukuran manusia.

Kalau kita melihat standar kebaikan ini lebih jauh dalam dunia filsafat, maka hal ini juga digumuli oleh tokoh-tokoh filsafat besar seperti Aristoteles. Ia mengajarkan kepada murid-muridnya bahwa kebaikan sejati itu dilakukan oleh pribadi-pribadi yang memiliki motivasi yang tidak menguntungkan diri sendiri pada saat ia berbuat baik, tetapi motivasi berbuat baik itu itu dikembali kepada kebaikan sejati itu sendiri. Setelah menjelaskan sampai di sini, Aristoteles tidak sanggup menjelaskan siapakah kebaikan sejati sehingga ini menjadi jalan buntu bagi Aristoteles dan murid-muridnya.

Hal ini juga digumuli oleh Joseph Fletcher dalam membahas tentang konsep etika yang benar dengan memberi contoh berikut. Ada sebuah kapal yang karam dan hanya ada satu perahu kecil yang dapat menampung 50 orang–lebih dari itu perahu itu akan tenggelam–dan perahu itu dinaiki pas 50 orang dan saya berada di dalamnya, lalu pada waktu perahu ini mau berangkat, e… ternyata ada satu orang yang ada di kapal yang karam tersebut berteriak minta tolong, terus apa yang harus dilakukan? Membiarkan orang itu, ataukah saya mau berkorban untuk orang itu? Kalau menurut Joseph Fletcher, biarkan saja satu orang yang minta tolong itu mati daripada 50 orang termasuk saya harus mati. Dan menurut Fletcher itulah yang baik.

Namun kalau kita melihat kembali kepada standar kebaikan mutlaknya Allah, maka sangat berbeda dengan ukuran kebaikan manusia di mana kalau kita memakai standar mutlaknya Allah, maka dalam kasus Fletcher saya yang ada di dalam perahu kecil itu harus nyemplung ke dalam air dan menolong orang itu, serta memberikan tempatku kepada dia dan biarlah saya mati.

Itu adalah suatu kebaikan yang mutlak, sehingga tidak ada motivasi kepentingan diri sendiri. Mengapa? Karena hal ini telah dilakukan oleh Tuhan Yesus. Pada saat manusia mulai tenggelam di dalam dosa karena perbuatan egoisnya sendiri–ingin sama dengan Allah–Allah menjelma menjadi manusia masuk dalam dunia yang penuh dosa, dengan konsekuensi Dia harus mati ganti manusia, sehingga manusia tidak mengalami kematian kekal.

Menurut kategori Alkitab kebaikan diukur dari dua sisi. Pertama, kesesuaian lahiriah menurut hukum Allah. Artinya Allah melarang mencuri, maka adalah baik untuk tidak mencuri, adalah baik untuk membayar hutang, adalah baik untuk menolong orang lain. Dan manusia bisa melakukan perbuatan lahiriah ini setiap hari. Pada waktu kita melihat orang melakukan kebaikan-kebaikan ini, maka dengan cepat kita menyimpulkan bahwa orang itu sesungguhnya melakukan hal-hal yang baik.

Kedua, Allah tidak hanya melihat kesesuaian tindakan luarnya dengan hukum Allah secara lahiriah tetapi juga dengan motivasinya. Kita melihat yang lahiriah saja tetapi Allah melihat apa yang ada dalam hati. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sesuatu dinilai baik apabila tindakan itu sesuai dengan hukum Allah secara lahiriah dan dilakukan dengan motivasi yang tulus, yaitu untuk mengasihi Allah. Amin.

Ayub Abner M. Mbuilima


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: