Oleh: Pdt. Ayub Abner | Juli 14, 2007

Natal: Pemberian Terbesar

Tanpa terasa Natal telah kembali menyapa kita.  Berbagai acara telah dipersiapkan menyambut hari istimewa ini. Pusat-pusat perbelanjaan sibuk mendandani dirinya dengan berbagai ornament Natal yang menarik yang diharapkan dapat menarik perhatian pengunjung. Tak ketinggalan Stasiun-stasiun TV menawarkan berbagai program acara yang menarik perhatian pemirsanya.

Sungguh sangat disayangkan bahwa yang seharusnya menjadi pusat perhatian adalah Kristus Sang Bayi Natal, namun kenyataannya acara-acara yang menarik, hiasan-hiasan yang menarik, lagu-lagu yang indah, semuanya itu telah menarik perhatian kita dari Sang Bayi Natal. Mungkin prosentase perhatian kita terhadap persiapan Natal itu sendiri jauh lebih besar ketimbang persiapan hati kita yang mau kembali merenungkan betapa indahnya karya keselamatan yang dirancangkan Allah lewat peristiwa menakjubkan ini, Natal yang membawa damai dimana Kristus telah lahir.

Mari kita merenungkan kembali Natal pertama di mana Kristus dilahirkan dalam kondisi yang serba sederhana.

Kelahiran yang sederhana

Bagi Paulus Natal adalah ketika Kristus menjadi miskin karena kita (II Korintus 8:9a). Mengapa tidak, kemiskinan Kristus telah dibuktikan dengan keadaan dan simbol-simbol yang dipergunakan ketika Ia masuk dalam sejarah manusia.  Dimana Peristiwa Natal ini terjadi bukan di Yerusalem melainkan di kota kecil Betlehem, bukan di istana melainkan kandang yang hina dan berbau, bukan di singgasana melainkan palungan tempat makanan untuk domba-domba, bukan raja dengan jubah kebesaran melainkan  Bayi terbungkus lampin yang rentan terhadap malam yang dingin dan suasana yang amat tidak nyaman, simbol-simbol ini tidak ada yang monumental dan spektakuler. Selanjutnya Bayi ini lahir bukan dari keturunan bangsawan atau darah biru (nigrat)  yang, menunjukkan bahwa Ia adalah pewaris kerajaan secara silsilah. Namun ia memakai kandungan seorang gadis sederhana dari kota Betlehem, ditunjang dengan pekerjaan Maria dan Yusuf sebagai  tukang kayu sehingga Anak ini lahir sebagai anak tukang kayu. Bahkan yang lebih menyedihkan adalah para gembala sewaan yang buta huruf yang sedang menjaga  domba orang lain “bukan siapa-siapaE yang namanyapun tidak dicatat serta  memiliki reputasi yang jelek sampai orang Yahudi yang terhormat mengelompokkan mereka “orang tak bertuhanEdan membatasi mereka di halaman luar rumah ibadah, dipilih oleh Allah  untuk turut merayakan kehadiran Bayi Natal itu dalam kandang yang hina.

Dengan kondisi kesederhanaan demikian apakah Bayi yang kecil dan lemah ini tidak memiliki arti apa-apa melalui peristiwa kelahiran-Nya di dalam sejarah manusia? Paulus menjawab pertanyaan ini dengan melanjutkan bahwa E#060;i style=”mso-bidi-font-style: normal”>supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya (II Korintus 8:9b). Ungkapan Paulus secara tidak langsung menunjukkan bahwa bayi Natal ini dalam kehadiran-Nya membawa pemberian yang sangat besar untuk memperkaya orang percaya. Pemberian terbesar itu ditelusuri dalam pribadi-Nya  dan  pemaknaan-Nya dalam dunia ini.

Sederhana Namun Terbesar

Bayi Natal kecil yang lahir dalam suasana yang sederhana ternyata bagi Yohanes dan Paulus adalah sebuah pemberian terbesar sebab  Bayi tersebut adalah Anak Allah itu sendiri. Rasul Yohanes menulis dalam Yohanes 3:16 bahwa : “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya barang siapa yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekalE  Rasul Paulus menulis kepada jemaat di  Roma dalam Roma 8:32 EIa, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semuaE.  Anak Allah yang dimaksud adalah:

1.       Yesus Kristus ( Matius 1:21; Lukas 1:31)

Nama “Yesus” berasal dari bahasa Yunani yaitu Ιησους [Iēsoûs], yang merupakan  alihaksara dari bahasa Ibrani yaitu: Yeshua, yang berarti : Keselamatan, atau “Yahweh adalah keselamatan”, “Yahweh menyelamatkan”. Bahkan dalam Mzm.33:8 menyebut bahwa “oleh firman TUHAN langit telah dijadikanE sedangkan Yesus disebut sebagai Firman yang menciptakan segala sesuatu (Yoh.1:1-18), jadi kedua penyataan itu identik menunjuk pada Yesus. Yesus disamakan dengan YHWH sebagai ‘Alpha dan OmegaE (Why.22:13;band.1:8;21:6) dan ‘Awal dan AkhirE(Why.1:17; 2:8; band.21:6;Yes. 44:6; 48:12), jadi Yesus bukan ciptaan tetapi bersama-sama dengan Bapa dan Roh Kudus adalah Pencipta. Yohanes 5:21,27 menjelaskan bahwa bukan Bapa yang menghakimi dunia ini, tetapi penghakiman itu telah diserahkan kepada Anak (Yesus), sehingga Yesus adalah Hakim yang Agung akan menghakimi seluruh dunia.  Sedangkan kata “Kristus” adalah gelar yang dikenakan kepada Yesus, berasal dari bahasa Yunani Χριστός [Christos], dan dalam bahasa IbraniMeshias“, berarti “yang diurapi” atau “yang terpilih“. Kata yang diurapi yang menunjukkan kepada tiga jabatan yang dimiliki oleh Yesus yaitu  Raja, Imam dan Nabi. Istilah Mesias ini digunakan oleh bangsa Yahudi untuk menyatakan harapan mereka akan kedatangan “Dia atau seseorang yang telah diurapiE yang dikirim oleh Allah, sebagaimana yang dikatakan atau dinubuatkan oleh nabi-nabi Perjanjian Lama. Untuk menyelamatkan bangsa Israel dari penindasan”

Dengan demikian Bayi Natal yang lahir dalam kandang yang hina yang dibungkus dengan kain lampin adalah Allah yang menyelamatkan (Juruselamat), Allah Pencipta alam semesta, Hakim yang Agung serta Mesias yang diurapi menjadi Raja, Imam dan Nabi.

2. Pribadi kedua dari Allah Tritunggal

Pengertian Allah tritunggal adalah ‘Tiga oknum/pribadi Allah yang berbedaE (Bapa, Anak dan Roh Kudus) namun ‘Esa dan SehakekatEdi dalam esensinya yang adalah Allah, ini dinyatakan dalam Alkitab sejak awal kitab Kejadian (Kej.1:1-2 band. Yoh.1:1) sampai akhir kitab Wahyu (Why.21;22). Ketiganya ada sejak ‘Alpha dan OmegaE(Why. 1:8;21:6;22:13) dan ‘Arche dan TelosE(Yang Awal dan Akhir, Why.1:17;2:8;21:6;22:13), ketiganya dibedakan, namun ketiganya adalah Allah yang Esa yang sama-sama bekerja dalam penciptaan, penyelamatan, dan penghakiman di Akhir Zaman.

Dengan demikian pribadi yang terbaring dalam palungan adalah Oknum Kedua dari Allah tritunggal yang di utus oleh Bapa ke dalam dunia.

Pemaknaan dari kehadiran Pemberian Terbesar :

Melalui kehadiran Yesus Kristus dalam dunia maka orang percaya menerima karya yang terbesar dalam dunia ini yaitu:

1. Melalui peristiwa ini Allah memaknai  Kekristenan sehingga berbeda dengan agama lain.

Pengertian agama secara umum adalah usaha manusia mencari dan mengenal Allah[1], tetapi melalui peristiwa Natal memberikan warna dan arti yang berbeda pada kekristenan. Perbedaan tersebut terletak pada bukan manusia yang mencari Allah tetapi  Allah sendiri di dalam kedaulatan-Nya berinisiatif mencari manusia agar manusia dapat mengenal-Nya dan manusia diselamatkan[2]. Oleh sebab itu Allah di dalam Tuhan Yesus merupakan Allah yang adalah  kasih ( I Yoh 4:8), Ia tidak membiarkan manusia ciptaan-Nya berusaha sendiri untuk kembali kepada-Nya, karena Ia mahatahu bahwa apapun usaha manusia, berapa pun banyaknya perbuatan baik manusia tidak akan membawa manusia dapat sampai kepada Allah sang Penciptanya, karena manusia adalah ciptaan yang terbatas dan telah dicemari oleh dosa. Oleh sebab itu Natal adalah sebuah momentum yang sangat berarti bagi orang percaya untuk memiliki pengenalan yang jelas akan Allah yang disembah, sebab Natal berbicara tentang Allah yang mendunia, memanusia yang datang untuk menyapa manusia. Selanjutnya di dalam kekristenan Allah di dalam Yesus Kristus adalah Allah yang sangat peduli terhadap ciptaan-Nya, sehingga Ia sendiri berinisiatif untuk mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang manusia dan bergaul akrab dengan manusia serta merasakan apa yang dirasakan oleh manusia (Filipi 2:5-7). Sedangkan di dalam agama lain Allah yang disembah adalah Allah yang jauh yang perlu disembah dan dipanggil dengan menggunakan pengeras suara. (bnd I Raja-raja 18:27-28).

2. Peristiwa ini Merupakan Titik Awal Manusia Dibebaskan dari Perhambaan Dosa dan maut.

Peristiwa Natal dikatakan sebagai titik awal manusia dilepaskan dari perhambaan dosa dan maut. Peristiwa Natal harus mendahului  peristiwa Kalvari dan peristiwa kebangkitan Kristus, karena tanpa peristiwa Natal, maka peristiwa Kalvari dan kebangkitan tidak mungkin terwujud. Ketiga peristiwa ini (kelahiran, kematian dan kebangkitan) adalah suatu rentetan kejadian yang merupakan sebuah bukti kemenangan Kristus atas dosa dan maut, maka selanjutnya kemenangan Kristus atas dosa dan maut menjadi jaminan bagi orang percaya bahwa mereka tidak lagi diperhamba oleh dosa dan maut tetapi menjadi hamba kebenaran atau hamba Allah. ( Roma 6:17-19, 22).

3. Jaminan Satu-satunya agar Manusia Diselamatkan.

Tujuan Allah datang ke dalam dunia di dalam pribadi Yesus Kristus adalah untuk menyelamatkan manusia yang berdosa, maka Ia sendiri yang memberikan jaminan satu-satunya tentang kepastian keselamatan untuk mewarisi kerajaan sorga. Tidak ada jalan lain yang dapat menjadi mediator untuk memberikan keselamatan kepada manusia baik itu perbuatan baik melalui amal ibadah, pendiri-pendiri agama, dewa-dewa agama lain sebab semuanya sudah tercantum dalam apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam  Yohanes 14: 6  E#060;/span>Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Rasul Petrus  menyatakan dengan jelas dan tegas dalam Kisah Para Rasul 4: 12 EDan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” Memahami akan uraian di atas, maka tidak dapat disangkali bahwa peristiwa Natal adalah sebuah pemberian terbesar bagi manusia, sebab Natal berbicara tentang Allah mendunia untuk membebaskan manusia dari dosa dan maut, serta memaknai hidup orang percaya untuk berbeda dengan dunia ini dan memiliki kepastian keselamatan yang tidak dapat hilang. Apapun sambutan manusia terhadap Natal namun Natal tetap merupakan  “Sebuah pemberian terbesarE#060;/i> bagi tiap pribadi yang menyambut Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya.  Selamat Merayakan hari Natal.

 

“It has been the Christmas and Cross which has revealed to good men that their goodness has not been good enoughE#060;o:p>

Johann Hieronymus Schroeder:

 


[1]. Stephen Tong, Yesus Kristus Juruselamat dunia, Momentum: Surabaya, 2004. hlm. 67.Selain Stephen Tong, Thomas Arnold menjelaskan hal yang sama dalam The Encyclopedia of Religious quotations, hal. 95. “The distinction between Christianity and all other systems of religion consists largely in this, that in these others, men are found seeking after God, while Christianity is God seeking after menE#060;/span> (= Perbedaan antara Kekristenan dan semua sistim agama lain sebagian besar terletak di sini, yaitu bahwa dalam agama-agama lain, manusia didapati mencari Allah, sedangkan Kekristenan adalah Allah mencari manusia) E#060;/span>   [2]. Sejak kejatuhan manusia dalam Kejadian 3. Menunjukkan bahwa Allah yang berinisiatif mencari Adam dan Hawa, selanjutnya Allah berinisiatif memanggil Abraham, dst (Kel. 12: ), Namun penekanan di atas lebih menunjukkan bagaimana Allah berinisiatif melalui Inkarnasinya, masuk kedalam sejarah manusia serta mengalami apa yang dialami oleh manusia, sehingga olehnya manusia yang telah dipilihnya sejak semula (Efesus 1:4-5) diselamatkan.Ayub Abner M. Mbuilima


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: