Oleh: Pdt. Ayub Abner | Juli 14, 2007

Kemuliaan Di Dalam Doa

” Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-nya kepada-Nya: “Tuhan,ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-murid-Nya”. Lukas 11:1

Dapat diyakini bahwa salah seorang murid yang meminta kepada Tuhan Yesus untuk diajarkan doa ini adalah seorang yang pasti berlatar belakang Yahudi. Dengan demikian dapat juga diyakini bahwa bagi seorang Yahudi doa merupakan sesuatu yang sangat besar dan mutlak dilakukan dalam keluarga orang Yahudi, sebagaimana yang dijelaskan oleh Barclay: 

“Tidak ada bangsa di dunia ini yang mempunyai cita-cita doa yang lebih tinggi dari bangsa Yahudi
dan tidak ada agama lain yang pernah menempatkan keutamaan doa lebih tinggi dari orang-orang Yahudi. Sebagaimana semboyan dari para Rabbi Yahudi bahwa: Doa adalah besar, Melebihi semua perbuatan baik. Doa yang diucapkan di dalam rumah adalah pagar tembok yang lebih kuat ketimbang pagar besi …”

Namun timbul pertanyaan, apakah doa yang dimiliki oleh orang Yahudi dan yang selama ini dinaikkan oleh orang Yahudi bukan doa yang benar, sehingga orang ini perlu lagi diajar untuk berdoa? 

Ternyata jawabannya ada dalam Matius 6:5, “…dan apabila kamu berdoa janganlah berdoa seperti orang munafik mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang…” 

Dapatlah dimengerti bahwa masalahnya bukan pada doa yang mereka naikkan, tetapi pada motivasi mereka pada saat menaikkan doa itu sendiri. Di mana Tuhan Yesus mencela arah doa yang senantiasa mereka naikkan. Di mana seakan-akan arah doanya dinaikkan ke Allah mengikuti kedua belah tangan yang ditengahdahkan ke atas, tetapi ternyata pada saat melakukan hal tersebut arahnya berbalik bukan ke Allah, tapi kembali kepada diri sendiri. Ini terbukti bahwa mereka melakukan itu di tikungan-tikungan jalan agar mereka dilihat oleh orang. 

Sehingga dapat digambarkan demikian, ketika doa dinaikkan kedua belah tangan dijulurkan keatas, tapi mata mereka memandang ke kanan, ke kiri, untuk melihat apakah ada orang yang melihat bahwa saya berdoa sehingga kerohanian saya dilihat dan mereka memuji bahwa saya adalah orang yang taat, rohani, dan setia dalam doa.

Dengan demikian bagian ini memberikan beberapa pengajaran bagi kita:
1. Tujuan dari kita berdoa adalah untuk memuliakan Tuhan bukan memuliakan diri kita sendiri.

2. Jawaban Doa adalah tergantung kepada Allah sendiri, karena Allah lebih tahu mana yang perlu diberikan dan mana yang tidak perlu diberikan, dalam Allah menjawab doa kita, sehinga dapat memuliakan diri-Nya. Dengan demikian kita tidak menjadikan Tuhan menjadi hamba kita tetapi menjadi Tuhan menjadi Tuhan kita yang mengatur hidup kita. Sehingga kita perlu berhati-hati dengan doa Visualisasi yang lagi trand diajarkan jaman ini.

3. Doa yang benar yang diikuti oleh motivasi yang benar untuk memuliakan Allah tidak lepas dari sejauh mana pemahaman pribadi tersebut kepada Allah yang di sembah dan dipercayai, dan pengenalan tersebut hanya didapatkan di dalam kerinduan untuk belajar akan Firman-Nya yang sudah diwahyukan di dalam Alkitab.

4. Tidak ada alasan bagi setiap orang kristen untuk tidak bisa berdoa hanya dengan alasan doaku tidak bagus, nanti apa kata orang. Karena yang menilai doa kita bagus atau tidak sesuai atau tidak, benar atau salah, hanya Allahlah yang menilai bukan manusia, sebab bukan manusia yang menjawab doa kita melainkan Allah yang kita kenal di dalam Tuhan Yesus.

Ayub Abner M. Mbuilima


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: