Oleh: Pdt. Ayub Abner | Juli 14, 2007

Doa, Kehendak Siapakah Yang Terjadi

Seringkali dalam berdoa ada suatu kerinduan agar doa kita dijawab oleh Tuhan. Suatu kepastian yang perlu diyakini adalah bahwa doa yang dinaikkan kepada Tuhan pasti dijawab oleh Tuhan. Akan tetapi perlu dipahami juga, bahwa jawaban Tuhan ada tiga bentuk.

Yang pertama adalah “Ya anak-Ku”. Jawaban ini diberikan pada saat kita meminta, Ia langsung memberikan apa yang kita minta kepadanya. Mengapa? jawabannya tidak lain adalah karena sesuai dengan kehendak Tuhan dan Tuhan tahu bahwa pada saat itu kita membutuhkan hal tersebut untuk memuliakan nama-Nya. 

Jawaban yang kedua adalah “Tunggu anak-KU”, dalam pengertian pada saat kita meminta, Tuhan tidak langsung memberikan apa yang kita minta tetapi dalam proses waktu yang cukup lama baru Tuhan memberikan apa yang kita minta. Mengapa demikian? Jawabannya adalah Tuhan mau melihat sejauh mana kesungguhan dan kesabaran kita meminta kepada Tuhan agar kita setia bergantung kepada Tuhan. 

Jawaban yang ketiga adalah “Tidak anak-Ku”. Mengapa demikian? Karena kalau Tuhan memberikan hal tersebut maka akan menghancurkan hidup kita. 

Setelah kita melihat akan bentuk jawaban doa dari Tuhan, maka sekarang kita akan melihat suatu hal yang sangat penting dalam Doa yaitu “kehendak siapakah yang diutamakan dalam Doa. Kehendak saya ataukah kehendak Tuhan?”

Kalau kita melihat akan keteladanan Tuhan Yesus pada saat Dia menaikkan doanya di Taman Getsemani sebelum Dia mati di atas Kayu Salib, ada satu kalimat yang penting “Janganlah kehendak-Ku melainkan kehendak-Mulah yang jadi.” Bahkan dalam Doa Bapa kami kita diajar untuk senantiasa mengucapkan dan meyakini kalimat “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga”, yang berarti dalam doa orang percaya kepada Tuhan bukan kehendak Tuhan yang dicocokkan dengan kehendak kita, tetapi yang benar adalah dalam doa adalah kehendak kita yang harus dicocokkan dengan kehendak Tuhan dan membiarkan kehendak kita dikuasai oleh kehendak Tuhan. 

Dengan demikian bukan kehendak Allah yang berubah tetapi kehendak kita yang berubah mengikuti kehendak Allah yang kekal dan sempurna, yang berarti kehendak Allahlah yang perlu terjadi dalam Doa kita.

Setelah memahami akan semua ini maka ada bebarapa kebenaran yang perlu diambil:

1. Kehendak Allah mutlak terjadi atas Doa kita. Dengan tetap membiarkan kehendak Allah terjadi dalam Doa kita, maka kita tetap menempatkan Tuhan menjadi Tuhan kita yang hidup dan yang perkasa, sedangkan kalau kehendak kita yang jadi maka kita menempatkan Tuhan sebagai hamba kita yang tugasnya mencukupi apa saja yang kita inginkan, yang juga berarti bukan Tuhan yang besar, tetapi sebaliknya kita yang lebih besar dari Tuhan. Pada hal sebenarnya Tuhan yang harus lebih besar.

2. Kita meyakini bahwa Tuhan lebih mengetahui kebutuhan kita lebih daripada kita mengetahui
kebutuhan kita.

3. Allah tidak pernah salah, terlambat, gagal dalam menjawab doa kita.

4. Dengan membiarkan kehendak Allah berlaku dalam doa kita, maka apapun bentuk jawaban yang Tuhan berikan kepada kita, tidak membuat kita putus asa dan kecewa kepada Tuhan. Tetapi sebaliknya, membuat kita senantiasa mengucap syukur dan bersukacita.

Ayub Abner M. Mbuilima


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: